skip to main | skip to sidebar

About me

Unknown
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Archivo del blog

  • ▼ 2014 (43)
    • ▼ Desember (1)
      • PANTUN Nama      : Shovia Syahputri Kelas   ...
    • ► November (4)
    • ► September (12)
    • ► Agustus (26)

Followers

XI IPA 5

Senin, 22 September 2014

Penjualan Sebuah Rumah Tua

Iklan penjualan sebuah rumah tua seluas dua ratus meter per segi telah tersebar di mana-mana. Akhirnya,berita tersebut sampai ke telinga seorang pegawai negeri sipil bernama Eka Hidayati yang baru saja berkeluarga. Ia ingin membeli rumah itu untuk kehidupan baru bersama suaminya. Ia berusaha mencari tahu mngenai rumah tersebut dan menghubungi penjual dari rumah tua itu.Setelah berkomunikasi melalui telepon, mereka membuat janji untuk bertemu.
Eka mendatangi rumah tua yang dimaksud, ia mengetuk pintu dan mngucapkan salam. Tiba tiba, terdengar suara balasan salam dan seorang wanita setengah baya membukakan pintu. Wanita tersebut tersenyum dan bertanya siapakah Anda dan apa maksud kedatangannya, lalu Eka mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri bahwa dia adalah Eka Hidayati calon pembeli rumah tersebut. Wanita setengah baya itupun menjabat tangan dan memperkenalkan diri bahwa ia adalah Agustina Fadilla Gunata, penjual dari rumah tersebut. Setelah itu, Agustina mempersilahkan Eka untuk masuk dan melihat-lihat keadaan rumah.
Si Penjual memberitahu mengenai kondisi dan letak rumah. Eka mulai bertanya mengenai harga yang ditawarkan, lalu Agustina menjawab bahwa harga yang sesuai ialah enam ratus lima puluh juta rupiah. Eka, si Pembeli langsung terkejut mendengar harga yang ditawarkan oleh si Penjual dan Eka menolak harga tersebut dikarenakan kondisi rumah yang kurang sesuai dengan harga yang sangat mahal. Eka juga menjelaskan bahwa kondisi rumah sangat buruk mulai dari atap yang bocor sampai dinding yang sudah mulai berlumut.
Kemudian, Eka menawarkan untuk menurunkan harga menjadi lima ratus tujuh puluh lima juta rupiah, akan tetapi si Penjual tidak setuju karena harga tersebut sangat jauh dari standar. Setelah itu, si Penjual memberi usulan yaitu dengan melakukan perbaikan rumah tua tersebut. Tetapi harga yang ditetapkan oleh si Penjual ialah seperti harga awal yaitu enam ratus lima puluh juta rupiah.
Akhirnya Eka menerima tawaran yang diajukan oleh si Penjual yaitu dengan melakukan perbaikan, tetapi Eka tetap tidak setuju dengan harga yang ditetapkan. Lalu, Eka mengajukan harga yaitu enam ratus tiga puluh juta rupiah. Si Penjual mensetujui harga tersebut dengan syarat Eka diharuskan untuk membayar secara langsung tidak dengan mengangsur. Apabila Eka melakukan pembayaran dengan mengangsur, maka ia akan dikenakan bunga sebesar 0,5 persen.
Eka pun bertanya mengenai pengurusan berkas-berkas pemindahan kepemilikan rumah tersebut, si Penjual menjelaskan bahwa masalah pengurusan berkas-berkas dia akan melakukannya. Tetapi, Eka akan dikenakan biaya penyewaan notaris sekitar tiga juta rupiah.
Setelah Eka melakukan persetujuan atas proses pembelian yang akan ia tempuh, ia mengucapkan terima kasih kepada Agustina sebagai penjual yang telah melayaninya dengan sepenuh hati. Si Penjual berkata bahwa ia akan berusaha menyelesaikan pengurusan rumah tersebut tepat waktu.

NAMA                         : AGUSTINA FADILLA GUNATA
KELAS                        : XI IPA 5

NO ABSEN                 : 4
Diposting oleh Unknown di 07.00 0 komentar

Minggu, 21 September 2014

Penjualan Sebuah Rumah Tua


Iklan penjualan sebuah rumah tua seluas dua ratus meter per segi telah tersebar di mana-mana. Akhirnya,berita tersebut sampai ke telinga seorang pegawai negeri sipil bernama Eka Hidayati yang baru saja berkeluarga. Ia ingin membeli rumah itu untuk kehidupan baru bersama suaminya. Ia berusaha mencari tahu mngenai rumah tersebut dan menghubungi penjual dari rumah tua itu.Setelah berkomunikasi melalui telepon, mereka membuat janji untuk bertemu.
Eka mendatangi rumah tua yang dimaksud “Assalammualaikum. Permisi Bu, apakah Anda pemilik dari rumah yang ingin dijual ini?” lalu si Penjual berkata, “Waalaikumsalam. Iya benar, perkenalkan nama saya Agustina Fadilla Gunata. Apakah Anda yang ingin membeli rumah ini?”. “Iya, bolehkah saya melihat-lihat?” Eka bertanya, “Silahkan masuk, Bu” si Penjual mempersilahkan Eka.
Si Penjual memberitahu mengenai kondisi dan letak rumah. Eka mulai bertanya mengenai harga yang ditawarkan “Bagaimana dengan harga rumah ini, Bu?”, “Harga yang saya tawarkan sekitar enam ratus lima puluh juta rupiah” si Penjual menjawab. “Wah itu tidak mungkin, harga yang Anda tawarkan sangat jauh dari harga yang sesuai dengan kondisi rumah ini” Eka menjelaskan kondisi rumah yang kurang baik dari atap yang bocor sampai dinding yang berlumut.
“Bagaimana jika harga rumah ini turun menjadi lima ratus tujuh puluh lima rupiah?” Eka, si Pembeli menawarkan harga yang sesuai dengan rumah tua itu. Tetapi si Penjual menolak “Maaf Bu, tetapi harga tersebut sangat jauh dari standar”, “Rumah tersebut pun tidak sesuai dengan standar yang Anda maksud” protes si Pembeli. Si Penjual memutuskan untuk mengambil jalan tengah “Bagaimana jika saya melakukan renovasi terlebih dahulu, namun harga yang saya tetapkan adalah enam ratus lima puluh juta rupiah”.
“Saya setuju dengan renovasi yang akan Anda lakukan, tetapi harga nya masih terlalu mahal. Bagaimana jika harganya menjadi enam ratus tiga puluh juta rupiah?”. Si Penjual mensetujui harga yang ditawarkan oleh Eka, tetapi Eka harus membayar secara langsung apabila tidak maka Eka akan dikenakan bunga sebesar 0,5 pesen dari harga yang telah ditentukan. Akhirnya Eka setuju atas tawaran yang diberikan oleh si Penjual.
Eka bertanya, “Lalu, bagaimana dengan pengurusan berkas-berkas rumah ini?”, “Kalau masalah itu, saya yang akan melakukan pengurusannya tetapi Anda akan dikenakan biaya atas penyewaan notaris sekitar tiga sampai empat juta” si Penjual memperjelas. “Lalu, sekitar satu bulan dari sekarang rumah ini sudah menjadi atas nama Anda” lanjut si Penjual.
“Baiklah saya setuju” Eka tersenyum satelah mencapai kesepakatan tersebut. Eka pun berjabat tangan dengan si Penjual“Terimakasih atas kepercayaan Anda, saya akan berusaha menyelesaikan semuanya tepat waktu”. Eka berkata, “Kalau begitu saya mohon pamit”, “Selamat beraktifitas kembali”. Akhirnya Bu Eka berhasil membeli rumah tersebut dengan harga yang diinginkan.

NAMA                        : AGUSTINA FADILLA GUNATA
KELAS                       : XI IPA 5
NO ABSEN                : 4
Diposting oleh Unknown di 08.02 0 komentar
Penjualan Sebuah Rumah Tua

Iklan penjualan sebuah rumah tua seluas dua ratus meter per segi telah tersebar di mana-mana. Akhirnya,berita tersebut sampai ke telinga seorang pegawai negeri sipil bernama Eka Hidayati yang baru saja berkeluarga. Ia ingin membeli rumah itu untuk kehidupan baru bersama suaminya. Ia berusaha mencari tahu mngenai rumah tersebut dan menghubungi penjual dari rumah tua itu.Setelah berkomunikasi melalui telepon, mereka membuat janji untuk bertemu.
Eka mendatangi rumah tua yang dimaksud “Assalammualaikum. Permisi Bu, apakah Anda pemilik dari rumah yang ingin dijual ini?” lalu si Penjual berkata, “Waalaikumsalam. Iya benar, perkenalkan nama saya Agustina Fadilla Gunata. Apakah Anda yang ingin membeli rumah ini?”. “Iya, bolehkah saya melihat-lihat?” Eka bertanya, “Silahkan masuk, Bu” si Penjual mempersilahkan Eka.
Si Penjual memberitahu mengenai kondisi dan letak rumah. Eka mulai bertanya mengenai harga yang ditawarkan “Bagaimana dengan harga rumah ini, Bu?”, “Harga yang saya tawarkan sekitar enam ratus lima puluh juta rupiah” si Penjual menjawab. “Wah itu tidak mungkin, harga yang Anda tawarkan sangat jauh dari harga yang sesuai dengan kondisi rumah ini” Eka menjelaskan kondisi rumah yang kurang baik dari atap yang bocor sampai dinding yang berlumut.
“Bagaimana jika harga rumah ini turun menjadi lima ratus tujuh puluh lima rupiah?” Eka, si Pembeli menawarkan harga yang sesuai dengan rumah tua itu. Tetapi si Penjual menolak “Maaf Bu, tetapi harga tersebut sangat jauh dari standar”, “Rumah tersebut pun tidak sesuai dengan standar yang Anda maksud” protes si Pembeli. Si Penjual memutuskan untuk mengambil jalan tengah “Bagaimana jika saya melakukan renovasi terlebih dahulu, namun harga yang saya tetapkan adalah enam ratus lima puluh juta rupiah”.
“Saya setuju dengan renovasi yang akan Anda lakukan, tetapi harga nya masih terlalu mahal. Bagaimana jika harganya menjadi enam ratus tiga puluh juta rupiah?”. Si Penjual mensetujui harga yang ditawarkan oleh Eka, tetapi Eka harus membayar secara langsung apabila tidak maka Eka akan dikenakan bunga sebesar 0,5 pesen dari harga yang telah ditentukan. Akhirnya Eka setuju atas tawaran yang diberikan oleh si Penjual.
Eka bertanya, “Lalu, bagaimana dengan pengurusan berkas-berkas rumah ini?”, “Kalau masalah itu, saya yang akan melakukan pengurusannya tetapi Anda akan dikenakan biaya atas penyewaan notaris sekitar tiga sampai empat juta” si Penjual memperjelas. “Lalu, sekitar satu bulan dari sekarang rumah ini sudah menjadi atas nama Anda” lanjut si Penjual.
“Baiklah saya setuju” Eka tersenyum satelah mencapai kesepakatan tersebut. Eka pun berjabat tangan dengan si Penjual“Terimakasih atas kepercayaan Anda, saya akan berusaha menyelesaikan semuanya tepat waktu”. Eka berkata, “Kalau begitu saya mohon pamit”, “Selamat beraktifitas kembali”. Akhirnya Bu Eka berhasil membeli rumah tersebut dengan harga yang diinginkan.


NAMA                         : AGUSTINA FADILLA GUNATA
KELAS                        : XI IPA 5

NO ABSEN                 : 4
Diposting oleh Unknown di 07.59 0 komentar

Kamis, 18 September 2014

Teks Negosiasi dalam bentuk Monolog

Menjelajahi Pasar Ubud

                Pasar Ubud adalah salah satu pasar yang terkenal di Bali. Pasar ini juga terkenal oleh para turis. Lokasi pasar ini sangatlah stategis, di depan Puri Agung Saren Ubud. Tepatnya di persimpangan Jalan Monkey Forest. Pasar ini juga pernah menjadi lokasi shooting film Hollywood “Eat, Pray, Love” yang dibintangi Julia Roberts. Karena pasar ini sangat terkenal anak SMAN 2 Bandar Lampung singgah di pasar ini saat “study tour” untuk membeli cendramata.
                Pasar ini terkenal juga dengan tas anyaman, baju-baju bertuliskan Bali, pakaian tradisional Bali, sampai patung dan lukisan seperti pasar lainnya. Saat itu Indah ingin mencari tas anyaman untuk seorang kakaknya.
                Kami pun mengelilingi pasar tersebut. Pada di lantai dua kami melihat tas anyaman yang cantik. Indah pun sangat menyukainya dengan sekali melihatnya tetapi ia tidak melihat warna biru kesukaan kakaknya. Lalu ia bertanya kepada si Penjual “Mbak apakah tas ini ada yang warna biru Mbak ?” , lalu si Penjual bertanya “ada Dik mari masuk kedalam”.
                Indah melihat label harga yang tergantung di tas itu, lalu ia bertanya “Mbak bisa tidak kalau saya ambil ini dengan harga Rp 200.000,00 saja ?”. si Penjual berkata “wah tidak bisa Dik bagaimana kalau ditambah tiga puluh ribu saja ?”. Indah berkata “ Ayolah Mbak uang saku saya kesini sangatlah sedikit”. Lalu si Penjual berkata “ baiklah dua ratus dua puluh ribu rupiah saja ya Dik “ lalu Indah pun bertanya dengan temannya Nia “ Nia kalau dua ratus dua puluh ribu rupiah kemahalan tidak ya ?” Nia menjawab “Kalau menurutku si kemahalan, Ndah “.
                Indah pun tidak putus asa untuk bernegosiasi dengan si Penjual. “ Ayolah Mbak kurangi sajalah sedikit minimal dua puluh ribu lagi “.Si Penjual sepertinya sudah merasa kasihan dengan si Indah yang selalu menawar terus-menerus dengan wajah yang sedikit lemas. Maka dari itu si Penjual setuju dengan harga yang indah usulkan.
                Si Penjual setuju memberikan jumlah harga yg Indah usulkan. Indah pun tampak sangat bahagia dan ia berkata “ terima kasih Mbak ini uangnya” Indah pun memberikan uangnya tersebut ke Penjual. Lalu si Penjual tersenyum melihat Indah yang tampak kegirangan mendapatkan tas itu.

                Setelah itu, Indah pun berterima kasih kepada Penjual dan berkata akan kembali lagi jika ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Bali lagi. Lalu ia meninggalkan toko itu dengan wajah gembira bersama temannya.

Karya :Indah Monisa Firdiantika
Diposting oleh Unknown di 22.40 0 komentar

Tidak Dapat Kursi Jati Kursi Rotanpun Jadi



Awal September  biasanya seorang Pekerja mendapatkan penghasilan dari hasil kerjanya begitu juga dengan  Pak Tony seorang karyawan PT Gula Mataram , ia  mendapatkan gaji dari Perusahaan tempat ia bekerja, ia ingat bahwa kursi tamu dirumahnya sudah rusak, jadi ia ingin mengganti  kursi tamu yang kurang layak tersebut.
Minggu pagi Pak Tony ke Toko cahaya ia  dilayani oleh karyawan toko kemudian karyawan toko menyapa Pak Toni “Selamat pagi, Pak ada yang bisa saya bantu ?”  “Selamat pagi ,Mas. Ya saya ingin membeli kursi tamu.” Pak Toni Menjawab.
karyawan Toko tersebut mempersilahkan Pak tony untuk melihat beberapa kursi yang ada di toko. kemudian Pak Tony bertanya “berapa harga untuk kursi jati Jepara ?” lalu karyawan menjawab “Untuk harga kursi Jati Jepara satu set di toko kami dua juta rupiah , Pak.” Lalu Pak tony menjawab “Wah,mahal sekali,ada yang lebih murah tidak ?” karyawanpun menjawab “Maaf, Pak di toko kami harga tersebut sudah termasuk murah.”   
Setelah itu Pak Toni menawar harga kursi terebut satu juta rupiah tetapi karyawan menolak tawaran dari Pak Toni karena harga tersebut sudah pas dengan kualitas kursi jati yang bagus.Setelah itu karyawan menawarkan kursi yang lebih murah dari kursi jati Jepara yaitu kursi rotan  kemudian Pak Toni menayakan harga kursi rotan dan harga kursi rotan tersebut satu juta delapan ratus  ribu rupiah namun Pak Toni menawar harga yaitu delapan ratus ribu rupiah dan karyawan monolak tawaran tersebut “Tidak bisa pak kursi tersebut  banyak yang mencarinya dan kursinya tinggal satu  ”Karyawan berkata.”Yah ,Mas kursinya hanya 1 warna saya tidak bisa memilihnya,oleh karena itu bisa kurang ya Mas ?” Pak Tony berkata. Lalu karyawan menjawab penawaran harganya tidak bisa kurang dari setengah harga lalu Pak Tony  menawar satu juta rupiah. “Sudahlah,Pak satu juta lima ratus sudah harga pas jika Bapak menawar satu juta rupiah kami rugi , Pak belum upah angkut jasanya,karena Bapak datang pagi kami kasih harga pas saja.”
Lalu Pak Tony menyetujuinya. “Ini Pak notanya silahkan tanda tangan dan tulis alamat bapak”karyawan berkata.”
baiklah,ini uang dan notanya”pak Tony berkata.kemudian pak Tony bertanya “Jam berapa kursinya ingin diantar?” lalu karyawan menjawab “kursinya langsung saya antar sekarang , Pak”
 Pak Tony mengucapkan Terima kasih pada karyawan dan karyawan membalas sama sama.  akhirnya dengan bernegosiasi yang cukup lama Pak Tony mendapatkan kursi rotan yang harganya lumayan terjangkau dan dapat dipakai untuk ruangan Tamu.

Nama                   : Tria Mailan Karemoi
Kelas                    : XI IPA 5
Diposting oleh Unknown di 22.26 0 komentar

Jumat, 29 Agustus 2014

Cara Membuat Rekening Tabungan di Bank

Membuka rekening bank memiliki banyak manfaatnya. Selain untuk menyimpan uang, menabung di bank memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan yang bisa kita dapat, antara lain:

          1. Keamanannya : 
Uang kita akan dijamin aman bila kita menabungnya ke salah satu bank di Indonesia. Segi aman ini bisa dilihat karena kita tidak perlu menyimpannya dalam rumah kita. 
         
          2. Tambahan Keuntungan : 
Kemungkinan mendapatkan bonus-bonus(undian) dari bank tersebut karena kita selalu menambahkan saldo pada tabungan kita. 

          3. Dana Cadangan : 
Uang yang kita simpan di bank ini bisa kita gunakan untuk keperluan mendadak ataupun mendesak dan bisa kita ambil kapan saja dan dimana saja. Tentunya dengan menggunakan fasilitas ATM yang telah disediakan bank tersebut.


Berikut adalah cara membuka rekening bank:


Diposting oleh Unknown di 18.23 0 komentar

CARA MEMBUAT KARTU KREDIT





Nama : Andrian Rakanu
Kelas : XI IPA - 5
No. Absen : 08

Diposting oleh Unknown di 17.47 0 komentar
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod